PILDACIL: Orang Islam yang Sebenarnya (DACIL 5)



اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى اَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَ الْاِسْلَامِ، وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya, kita masih sempat hadir di tempat yang penuh berkah ini. Shalawat menyertai salam kita kirimkan atas Baginda Nabiyullah Muhammad SAW—manusia terbaik, contoh agung, dan panutan bagi kita semua.

InsyaAllah, pada kesempatan yang mulia ini, tema yang akan saya bawakan adalah: Orang Islam yang Sebenarnya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Siapa sebenarnya orang Islam itu? Apakah mereka yang berasal dari suku Madura, Jawa, atau bahkan orang Mekkah? Bukan. Identitas keislaman tidak terikat pada suku atau tempat tinggal. Jawaban yang tepat adalah: Orang Islam adalah mereka yang bersaksi dengan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menjalankan puasa, serta melaksanakan haji bagi yang mampu.

Dengan kata lain, orang Islam yang sejati adalah mereka yang mengamalkan seluruh Rukun Islam. Jika salah satu ditinggalkan dengan sengaja, maka goyahlah pondasi keislamannya. Masihkah pantas disebut Muslim sejati jika shalatnya ditinggalkan, puasanya sering bolos, dan zakatnya diabaikan? Jangan sampai kita bersyahadat hanya sebagai syarat administratif saat hendak menikah di depan penghulu saja.

Selain taat dalam menjalankan rukun Islam, seorang Muslim yang sebenarnya juga dapat dikenali dari akhlaknya terhadap sesama. Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

"Seorang Muslim adalah orang yang Muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari)

Artinya, tidak hanya shalat dan puasanya yang baik, tapi lisan dan tangannya pun tidak menyakiti orang lain.

Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang dirahmati Allah,

Bekerja memang merupakan kewajiban sebagai sarana penunjang ibadah, namun jangan sampai kesibukan dunia membuat kita lalai dari panggilan Allah. Sangat menyedihkan jika seorang anak melihat orang tuanya begitu giat mengejar rezeki, namun justru melalaikan shalat lima waktu. Ingatlah, kerja adalah ibadah jika dilakukan tanpa meninggalkan kewajiban utama.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita beragama secara totalitas, jangan setengah-setengah. Mari kita sempurnakan kelima Rukun Islam tersebut. Memang, ini adalah pelajaran dasar sejak kita di bangku TK, namun dalam penerapannya dibutuhkan keistiqamahan yang luar biasa. Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah)." (QS. Al-Baqarah: 208)

Saudara hadirin seiman seakidah yang berbahagia,

Semoga kita semua digolongkan sebagai hamba yang memegang teguh ajaran Islam secara lahir dan batin hingga akhir hayat. Mungkin sampai di sini saja perjumpaan kita, mudah-mudahan bermanfaat. Terima kasih atas segala perhatian. Usikum wanafsi bitaqwallah.

Wabillahi Taufik Wassa’adah.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Sumber: BUKU SAKU KUMPULAN MATERI DACIL (DAKWAH CILIK) EDISI 5

Penyusun: KM. AHMAD SYUKUR, S.Pd

0 Komentar