اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى اَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَ الْاِسْلَامِ، وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya, kita masih sempat hadir di tempat yang penuh berkah ini. Shalawat menyertai salam kita kirimkan atas Baginda Nabiyullah Muhammad SAW—manusia terbaik, teladan agung, dan panutan bagi kita semua.
InsyaAllah, pada kesempatan yang mulia ini, tema yang akan saya bawakan adalah: Mempersiapkan Diri.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Kita semua menyadari bahwa suatu saat nanti kita akan mengalami kematian. Kita sadar sepenuhnya bahwa jasad ini kelak akan terbujur kaku di liang lahat. Namun yang mengherankan, meski kita tahu kematian itu pasti, mengapa sering kali kita lupa untuk berpikir dan menyiapkan bekal yang akan dibawa ke alam kubur?
Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِ
"Setiap yang bernyawa pasti akan mati." (QS. Ali Imran: 185)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kematian bukanlah akhir segalanya sebagaimana yang kita lihat pada jasad yang tidak lagi bernyawa. Ketahuilah, kematian adalah gerbang menuju sebuah kehidupan yang sesungguhnya. Di sana pun ada rasa gembira dan susah, ada untung dan rugi, persis seperti di dunia—namun dalam skala yang kekal.
Susah atau senangnya kita di alam sana sangat ditentukan oleh amal perbuatan kita selama di dunia. Jika amal kita baik, maka kebahagiaan dan keberuntunganlah yang akan kita petik. Sebaliknya, jika amal kita buruk, maka siksaan dan murka Allah yang akan kita rasakan. Na’udzubillahi tsumma na’udzubillah.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita persiapkan diri untuk kehidupan yang abadi. Kehidupan dunia ini hanyalah sementara, rata-rata kita hidup hanya sekitar 60 hingga 70 tahun saja. Sementara itu, kehidupan sesudahnya berlangsung beribu-ribu tahun, bahkan miliaran tahun hingga keabadian. Waktu yang singkat di dunia inilah yang menjadi penentu nasib kita di akhirat kelak.
Jadi, ingat... ingat... dan ingatlah... kita semua pasti akan mati. Sebelum saya akhiri, mari kita renungkan melalui syair ini:
(Nasyid/Lagu)
Orang kaya mati, orang miskin mati...
Raja-raja mati, rakyat biasa mati...
Semua menghadap Illahi, membawa amal sendiri-sendiri...
Saudara hadirin seiman seakidah yang berbahagia,
Semoga kita semua termasuk hamba yang cerdas, yaitu hamba yang senantiasa mengingat kematian dan mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadap-Nya. Mungkin sampai di sini saja perjumpaan kita, mudah-mudahan bermanfaat.
Terima kasih atas segala perhatian. Usikum wanafsi bitaqwallah.
Wabillahi Taufik Wassa’adah.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sumber: BUKU SAKU KUMPULAN MATERI DACIL (DAKWAH CILIK) EDISI 5
Penyusun: KM. AHMAD SYUKUR, S.Pd

0 Komentar