PILDACIL: Orang Yang Mulia (DACIL 4)

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى اَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَ الْاِسْلَامِ، وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya, kita masih sempat hadir di tempat yang penuh berkah ini. Shalawat menyertai salam kita kirimkan atas Baginda Nabiyullah Muhammad SAW—manusia terbaik, contoh agung, dan panutan bagi kita semua.

InsyaAllah, pada kesempatan yang mulia ini, tema yang akan saya bawakan adalah: Orang Yang Mulia.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Banyak orang berpikir bahwa keberuntungan hanya milik mereka yang kaya raya, sementara kemiskinan dianggap sebagai nasib yang malang. Saya tegaskan hari ini: kekayaan bukanlah jaminan kemuliaan, dan kemiskinan bukanlah tanda kehinaan. Keduanya adalah ujian dari Allah SWT.

Si kaya diuji dengan hartanya—mampukah ia mengendalikan hawa nafsunya dan bersyukur? Si miskin pun diuji dengan kekurangannya—mampukah ia bersabar dan tetap taat?

Ibu-ibu... Bapak-bapak yang dirahmati Allah...

Siapakah sebenarnya orang yang mulia itu? Orang yang mulia di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa. Seseorang boleh saja kaya raya, namun jika ia tidak bertaqwa dan hanya berfoya-foya, maka ia adalah hamba yang hina di mata Allah. Sebaliknya, meski seseorang miskin dan tidak memiliki apa-apa, namun hatinya penuh ketaqwaan, maka dialah orang yang paling dimuliakan oleh Allah SWT.

Maka tidak heran jika Rasulullah SAW bersabda bahwa mayoritas penduduk surga adalah orang-orang miskin. Mengapa demikian? Karena banyak di antara mereka yang tekun beribadah dan rendah hati, sementara orang kaya sering kali sibuk menghitung hartanya dan bangga dengan titipan yang bersifat sementara itu. Namun, bukan berarti orang kaya tidak bisa masuk surga. Semua kembali pada satu ukuran: Ketaqwaan.

Allah SWT telah menegaskan hal ini dalam Al-Qur’an:

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Mulai saat ini, marilah kita fokus memperbaiki ketaqwaan kita. Bagi yang miskin, janganlah bersedih atau iri hati. Bagi yang kaya, janganlah sombong atau membusungkan dada. Derajat manusia di hadapan Tuhannya bukan karena saldo simpanannya, melainkan karena pancaran taqwanya.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita dan menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Aamiin yaa Rabbal 'Aalamiin.

Saudara hadirin seiman seakidah yang berbahagia,

Mungkin sampai di sini saja perjumpaan kita, mudah-mudahan bermanfaat. Terima kasih atas segala perhatian. Usikum wanafsi bitaqwallah.

Wabillahi Taufik Wassa’adah.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Sumber: BUKU SAKU KUMPULAN MATERI DACIL (DAKWAH CILIK) EDISI 4

Penyusun: KM. AHMAD SYUKUR, S.Pd

0 Komentar