Islam Nusantara adalah sebuah Tipologi (khashāish). Dalam konteks pemikiran Islam, ia memiliki kedudukan yang serupa dengan madzhab, namun secara esensial ia bukanlah sebuah madzhab tersendiri. Mengapa dikatakan serupa dengan madzhab? Karena Islam Nusantara tidak merubah hakikat dari Islam itu sendiri.
Fokus utamanya terletak pada kekhususan metode (manhaj) dan cara pandang umat Islam di Nusantara dalam berdakwah dan berinteraksi (muamalah). Di sini, pendekatan budaya dan kultur lokal Nusantara menjadi instrumen utama yang ditekankan tanpa menggerus nilai-nilai syariat yang fundamental.
Kedudukan dalam Aqidah dan Fiqhi
Penting untuk digarisbawahi bahwa Islam Nusantara bukanlah hal baru yang berdiri sejajar dengan madzhab-madzhab klasik, baik dalam aspek Aqidah maupun Fiqhi. Islam Nusantara justru berhaluan teguh pada madzhab-madzhab otoritatif:
- Dalam Madzhab Aqidah: Mengikuti manhaj Ahlussunnah Waljama’ah (Asy'ariyyah dan Maturidiyyah).
- Dalam Madzhab Fiqhi: Mengikuti salah satu di antara Al-Madzhāhib al-Arba’ah (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali).
Dengan demikian, Islam Nusantara adalah metode ber-Islam khas wilayah kepulauan ini yang tetap berakar kuat pada tradisi keilmuan Islam global.
JEJAK DAKWAH PARA PENDAHULU: BUDAYA SEBAGAI JALAN
Ciri khas Islam Nusantara dapat kita telusuri dari rekam jejak dakwah para Wali Songo di tanah Jawa, hingga strategi dakwah Tiga Datuk di Pulau Sulawesi. Mereka menggunakan kebudayaan sebagai jembatan untuk memperkenalkan Islam tanpa menghapus identitas lokal dan tanpa mengurangi kemurnian Islam.
Budaya dijadikan sarana oleh para ulama untuk menanamkan nilai-nilai tauhid ke dalam jiwa masyarakat. Hasilnya, Islam dapat diterima dengan damai dan harmonis karena ia hadir tanpa menciptakan gegar budaya, melainkan menyatu melalui akulturasi yang bijaksana.
Benteng Melawan Radikalisme dan Liberalisme
Secara strategis, istilah Islam Nusantara muncul sebagai "counter" terhadap paham-paham transnasional seperti Radikalisme dan Liberalisme yang cenderung anti-budaya. Ia merupakan khazanah baru dalam ber-Islam yang menjaga agar Islam di Indonesia tetap moderat (wasathiyah).
Maka, argumen yang mempertanyakan: "Kenapa harus pakai embel-embel Nusantara?" adalah sebuah Sesat Logika (Logical Fallacy). Hal itu sama tidak logisnya dengan mempertanyakan penggunaan embel-embel Ahlussunnah Waljamaah. Identitas ini diperlukan untuk mempertegas manhaj agar umat tidak mudah terombang-ambing.
Owner anakpangaji.id
0 Komentar