PILDACIL: Kesederhanaan yang Tak Sederhana (DACIL 5)


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى اَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَ الْاِسْلَامِ، وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya, kita masih sempat hadir di tempat yang penuh berkah ini. Shalawat menyertai salam kita kirimkan atas Baginda Nabiyullah Muhammad SAW—manusia terbaik, contoh agung, dan panutan bagi kita semua.

InsyaAllah, pada kesempatan yang mulia ini, tema yang akan saya bawakan adalah: Kesederhanaan yang Tak Sederhana (di Mata Allah).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sering kali kita menganggap bahwa kesederhanaan hanyalah soal penampilan atau cara berpakaian yang biasa-biasa saja. Banyak orang mengira hidup sederhana itu "kecil" dan tidak berwibawa. Namun, tahukah kita? Di mata Allah SWT, kesederhanaan adalah sebuah kemuliaan yang sangat besar dan "tak sederhana" nilainya.

Kesederhanaan yang sejati lahir dari sebuah sifat bernama Qana’ah—merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Rasulullah SAW, manusia yang paling mulia, yang kunci-kunci perbendaharaan bumi ditawarkan kepadanya, justru memilih hidup sangat sederhana. Tidurnya hanya beralaskan tikar yang meninggalkan bekas di punggungnya. Mengapa? Karena beliau ingin mengajarkan bahwa dunia ini hanyalah tempat singgah.

Ibu-ibu... Bapak-bapak yang dirahmati Allah...

Ada orang yang saking sederhananya, ia tidak dikenal oleh penduduk bumi, namun namanya sangat masyhur di langit. Contohnya adalah Uwais al-Qarni. Ia bukan pejabat, bukan orang kaya, pakaiannya penuh tambalan, namun doanya mampu menembus langit karena kesederhanaan dan baktinya kepada orang tua.

Allah SWT berfirman mengenai sifat hamba-hamba-Nya yang mulia:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا

"Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati (sederhana)..." (QS. Al-Furqan: 63)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kesederhanaan itu menjadi "tak sederhana" karena ia memerlukan pengendalian diri yang luar biasa. Sangat sulit bagi orang yang punya segalanya untuk tetap rendah hati. Sangat sulit bagi orang yang mampu pamer untuk tetap memilih tersembunyi.

Ingatlah, setiap harta yang kita miliki akan ditanya di akhirat kelak: Dari mana didapat dan ke mana dibelanjakan? Semakin sederhana gaya hidup kita, semakin ringan hisab kita di hadapan Allah SWT. Orang yang hidup sederhana biasanya lebih tenang hatinya, karena ia tidak diperbudak oleh keinginan dunia yang tiada habisnya.

Saudara hadirin seiman seakidah yang berbahagia,

Mari kita didik diri kita dan anak-anak kita untuk tidak malu hidup sederhana. Malulah jika kita berlebihan namun melupakan sedekah. Malulah jika kita nampak mewah di mata manusia namun nampak miskin pahala di mata Allah.

Mungkin sampai di sini saja perjumpaan kita, mudah-mudahan bermanfaat. Terima kasih atas segala perhatian. Usikum wanafsi bitaqwallah.

Wabillahi Taufik Wassa’adah.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Sumber: BUKU SAKU KUMPULAN MATERI DACIL (DAKWAH CILIK) EDISI 5

Penyusun: KM. AHMAD SYUKUR, S.Pd

0 Komentar