اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى اَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَ الْاِسْلَامِ، وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya, kita masih sempat hadir di tempat yang penuh berkah ini. Shalawat menyertai salam kita kirimkan atas Baginda Nabiyullah Muhammad SAW—manusia terbaik, teladan agung, dan panutan bagi kita semua.
InsyaAllah, pada kesempatan yang mulia ini, tema yang akan saya bawakan adalah: Mencari Ilmu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Rasulullah SAW pernah bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
"Mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim laki-laki dan Muslim perempuan."
Mungkin muncul pertanyaan di benak kita: Mengapa mencari ilmu hukumnya wajib? Mengapa tidak sekadar dianjurkan saja? Jawabannya sederhana: karena segala sesuatu di atas bumi ini diatur oleh ilmu. Betul?
Baik urusan dunia, apalagi urusan akhirat, semuanya memerlukan ilmu. Kita mau beribadah, harus punya ilmu; tanpa ilmu, ibadah kita akan berantakan. Mau berdagang, kita juga harus punya ilmu; tanpa ilmu, dagangan bisa bangkrut. Segala profesi dan aktivitas membutuhkan ilmu. Maka sangat logis jika Nabi SAW mewajibkan kita mencari ilmu, baik ilmu umum lebih-lebih ilmu agama. Karena dengan ilmu, segala jalan menuju kesuksesan akan terbuka lebar. Betul?
Mau membuat sepeda motor, oke. Mau membuat mobil, oke. Mau berpidato atau membaca khutbah, terasa enteng saja jika kita sudah memiliki ilmunya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sebaliknya, tanpa ilmu, segala upaya kita berisiko mengalami kegagalan, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Muamalah kita bisa gagal, dan ibadah kita pun terancam tidak diterima oleh Allah SWT hanya karena faktor kebodohan.
Bukti konkretnya bisa kita lihat pada sejarah bangsa kita. Mengapa dulu negara kita bisa dijajah oleh Belanda, Jepang, bahkan Portugis dalam waktu yang sangat lama? Salah satu jawaban utamanya adalah karena saat itu rakyat kita masih diliputi kebodohan. Itulah mahalnya harga sebuah ilmu.
Hadirin yang berbahagia,
Mari kita terus semangat belajar tanpa mengenal usia. Mari kita bekali diri dengan ilmu agar kita tidak lagi dijajah oleh keadaan, dijajah oleh kebodohan, dan agar kita bisa menghadap Allah dengan amal ibadah yang benar.
Saudara hadirin seiman seakidah yang berbahagia,
Mungkin sampai di sini saja perjumpaan kita, mudah-mudahan bermanfaat. Terima kasih atas segala perhatian. Usikum wanafsi bitaqwallah.
Wabillahi Taufik Wassa’adah.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sumber: BUKU SAKU KUMPULAN MATERI DACIL (DAKWAH CILIK) EDISI 5
Penyusun: KM. AHMAD SYUKUR, S.Pd

0 Komentar