JAKARTA (Kamis, 02/04/26) anakpangaji.id - Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., yang juga merupakan Anregurutta Ketua Umum Pengurus Pusat Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, secara resmi mengikuti perhelatan konferensi internasional tingkat tinggi yang diinisiasi oleh Kementerian Urusan Islam Arab Saudi bersama delapan negara Muslim lainnya. Meskipun agenda bergengsi ini sedianya dijadwalkan berlangsung secara luring di Kota Suci Makkah pada 1–4 April 2026, dinamika geopolitik dan situasi kawasan Timur Tengah yang belum stabil memaksa penyelenggara untuk mengalihkan forum ke ruang virtual. Kendala teknis penerbangan internasional tidak menyurutkan semangat diplomasi keagamaan Indonesia untuk tetap hadir membawa visi besar mengenai hubungan timbal balik antara iman, kemanusiaan, dan kelestarian alam di tengah ancaman krisis global yang kian nyata.
Ekoteologi sebagai Kompas Etika Menghadapi Krisis Multidimensi
Dalam penyampaiannya yang sarat akan kedalaman filosofis, Anregurutta Nasaruddin Umar menekankan bahwa dunia saat ini sedang berada dalam pusaran krisis multidimensi yang tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga melukai nilai-nilai moral kemanusiaan. Beliau menegaskan bahwa persoalan perubahan iklim, krisis pangan, hingga kelangkaan air bersih merupakan sinyal kuat bahwa pendekatan konvensional yang selama ini digunakan sudah tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan zaman. Sebagai solusinya, beliau memperkenalkan konsep Ekoteologi—sebuah paradigma yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam menjaga keseimbangan alam—sebagai kompas etika bagi umat manusia. Melalui pendekatan ini, menjaga lingkungan hidup tidak lagi dipandang sekadar sebagai tanggung jawab sosial, melainkan menjadi bagian tak terpisahkan dari manifestasi keberagamaan yang utuh dan mendalam.
Perspektif Pondok Pesantren dalam Pelestarian Alam Semesta
Sebagai pimpinan tertinggi di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, yang merupakan institusi pendidikan Islam tertua dan episentrum kaderisasi ulama di Indonesia Timur, Anregurutta membawa perspektif kearifan lokal pesantren ke kancah global. Beliau menegaskan bahwa nilai-nilai pelestarian alam sebenarnya telah lama berakar dalam tradisi pesantren melalui pengajaran kitab kuning dan praktik hidup sederhana (zuhud) yang diajarkan oleh para masayikh terdahulu. Dalam kapasitasnya sebagai nahkoda As’adiyah, beliau memandang bahwa peran santri sangat krusial sebagai garda terdepan dalam mensosialisasikan pentingnya menjaga amanah Allah di muka bumi, di mana alam semesta dipandang sebagai ayat-ayat Tuhan yang harus dijaga kesuciannya. Transformasi rumah ibadah dan pesantren menjadi pusat edukasi lingkungan merupakan langkah nyata dari visi beliau agar nilai agama tidak hanya berhenti pada tataran teori, namun menjelma menjadi akhlakul karimah terhadap alam semesta.
Posisi Strategis Indonesia dalam Diplomasi Keagamaan Global
Kehadiran Anregurutta dalam forum internasional ini, yang turut didampingi oleh Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Bunyamin M. Yapid, mempertegas posisi strategis bangsa dalam kancah diplomasi keagamaan global sekaligus mengangkat muruah institusi pesantren Indonesia di mata dunia Islam. Indonesia membawa narasi kuat bahwa agama harus hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai krisis kemanusiaan dan lingkungan dunia melalui aksi-aksi yang terukur dan berlandaskan nilai ketuhanan. Dengan menegaskan bahwa melindungi bumi adalah kewajiban moral yang tidak dapat ditunda, Anregurutta mengajak negara-negara Islam lainnya untuk bersatu padu dalam menjaga kelestarian ciptaan Tuhan sebagai bentuk tanggung jawab kolektif. Semoga gagasan ekoteologi yang lahir dari rahim pemikiran ulama nusantara ini mampu menjadi inspirasi bagi tatanan dunia yang lebih hijau, damai, dan berkelanjutan. Barakallahu lakum.
0 Komentar