SELAYANG PANDANG KARYA ANREGURUTTA’ AS’AD AL-BUGISY: AL-KAUKAB AL-MUNIR & SULLAM AL-USHUL

Secara umum, dua kitab karya Al Mukarram Anregurutta’ As’ad Al-Bugisy—pelopor Madrasah Islamiyyah & Pesantren di Tanah Sulawesi—ditulis dalam bentuk nadzam atau bait-bait syair. Metode ini bertujuan mempermudah para penuntut ilmu dalam menghafal, sebuah tradisi yang lazim digunakan oleh ulama-ulama besar terdahulu seperti dalam kitab Alfiyyah Ibnu Malik (Nahwu), Tuhfah Al-Athfal (Tajwid), hingga Al-Baiquniyyah (Musthalah Hadits).

Anregurutta’ mengarang dua kitab ini khusus bagi para mubtadi’ (pemula) dalam dua fan ilmu: Ilmu ‘Ulumul Qur’an (Kitab Al Kaukab Al-Munir) dan Ilmu ‘Ushul Fiqh (Kitab Sullam Al-Ushul). Keduanya menggunakan bahasa Arab yang lugas, bahkan bagi non-Arab sekalipun, naskahnya sangat mudah dipahami dalam sekali baca.


Kitab Al-Kaukab Al-Munir: Sejarah & Inspirasi

Kitab ini awalnya berjudul “Muhii’ At Taisir ila ‘Ushul ‘ilm At-Tafsir” saat dicetak pertama kali di Mesir (1937 M). Namun, pada cetakan kedua tahun 1948 M, Anregurutta’ mengubah judulnya menjadi “Al Kaukab Al-Munir Nadzm Ushul Ilm At-Tafsir”. Dalam muqaddimahnya, beliau menyebutkan bahwa karya ini terinspirasi dari Syekh Abd. Aziz Az-Zamzami Al-Makki.


STRUKTUR ILMIAH KITAB AL-KAUKAB AL-MUNIR

Karya ini terdiri dari 247 bait syair yang merangkum 'Ulum Al-Qur'an ke dalam 6 pembahasan utama:

  • Bab I: Klasifikasi Penuzulan – Membahas ayat Makki-Madani, Safary-Hadhariy, siang-malam, hingga ayat yang turun di atas kasur Rasulullah (Al-Firashy) dan Asbabun Nuzul.
  • Bab II: Sanad Al-Qur'an – Mengupas Qiraah Mutawatir, Ahad, dan Syadz, serta nama-nama perawi dari kalangan Sahabat dan Tabi'in.
  • Bab III: Teori Praktikal Qiraat – Membahas Al-Waqf wal Ibtida’, imaalah, hingga Idgham.
  • Bab IV: Lafadz Al-Qur'an – Menjelaskan lafadz gharib, mu’arrab (serapan), majaz, homonim (musytarak), hingga metafora (isti’arah).
  • Bab V: Makna Hukum Syariat – Pembahasan runut mengenai ayat Am-Khash, Mujmal, Muawwal, Nasikh-Mansukh, hingga ayat yang hanya diamalkan oleh satu orang saja.
  • Bab VI: Makna Terkait Lafadz – Membahas Al-Wasl & Al-Fashl, Ijaz, hingga Al-Qashr (pembatasan makna).

Di sesi penutup, beliau mencantumkan secara lengkap nama-nama nabi, malaikat, serta julukan yang ada dalam Al-Qur'an, termasuk identitas sosok yang bersifat mubham (samar) seperti Rajlun Mu'min atau Ummu Musa.


KITAB SULLAM AL-USHUL: GERBANG USHUL FIQH

Hadir dengan 127 bait syair, kitab ini mengurai 15 pembahasan Ushul Fiqh secara sistematis. Dimulai dari urgensi ilmu ushul bagi seorang faqih, pembahasan Dilalah Alfadz (Amr, Nahi, Am, Takhsish), hingga konsep Nasakh.

Anregurutta’ juga membedah sumber hukum utama (Sunnah, Ijma’, Qiyash, Istishaab) serta dua poin krusial di akhir kitab:

  1. Istidhlaal: Solusi saat menemukan dua dalil yang tampak kontradiktif.
  2. Profil Mujtahid: Kriteria wajib seorang Mujtahid. Beliau menegaskan bahwa bagi mereka yang belum mencapai derajat Mujtahid, maka wajib menjadi Muqallid (pengikut) tanpa harus menuntut penyebutan hujjah/dalilnya secara detail.

Kitab ini kemudian diperkaya dengan syarah oleh murid beliau, Syekh Abd. Kadir bin H. Khalid Al-Bugisy dalam kitab “Nailul Ma’mul ‘ala nadzm Sullam Al Ushul”.


Cairo, 29 Juli 2021
Semoga Allah melimpahkan Rahmat-Nya kepada para pejuang literasi Nusantara yang telah menjaga karya-karya ulama kita. Amin.
Oleh: Prof. Halim El_Makassary

0 Komentar