AGH. ABUNAWAS BINTANG (Pencetus Kampus III dan Kampus IV Pontren As’adiyah)

MENGENAL SOSOK AG. H. ABUNAWAS BINTANG

AG. H. Abunawas Bintang, atau yang akrab disapa Gurutta Abba, adalah sosok ulama kharismatik yang menjadi pilar kewibawaan di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang. Lahir di Kajuara, Kabupaten Bone, beliau mendedikasikan seluruh napas hidupnya untuk berkhidmah di jalan dakwah dan pendidikan Islam.

Prinsip hidup beliau banyak dipengaruhi oleh sang guru yang sangat dikaguminya, AG. H. Yunus Martan. Sebagai murid yang taat, beliau mewarisi semangat juang dari sanad keilmuan yang bersambung langsung kepada Anregurutta Puang Aji Sade. Keteladanan beliau adalah oase bagi para santri, termasuk penulis yang merasa sangat beruntung sempat dibina langsung oleh beliau.


Pertama: Ketekunan dalam Mengajar

Gurutta Abba adalah manifestasi dari kegigihan seorang pendidik. Seluruh waktu beliau—mulai dari ba'da Subuh, pagi, sore, hingga malam hari—terisi penuh dengan jadwal pengajian, perkuliahan, dan dakwah. Beliau tidak mengenal lelah; bahkan sakit ringan sekalipun jarang menjadi penghalang bagi beliau untuk hadir di tengah-tengah muridnya.

Dedikasi ini dibuktikan hingga akhir hayatnya. Insiden kecelakaan yang dialami beliau terjadi justru dalam perjalanan pulang setelah memberikan perkuliahan di Ma’had Aly As’adiyah Sengkang. Sebuah bukti nyata bahwa khidmah beliau terhadap ilmu tidak pernah terputus hingga titik darah penghabisan.


SIFAT MAGETTENG: KETEGASAN SEORANG ULAMA

Poin kedua yang sangat melekat pada diri Gurutta Abba adalah sifatnya yang tegas dan penuh pendirian. Dalam budaya Bugis, karakter ini dikenal sebagai Magetteng. Beliau adalah sosok yang memiliki prinsip kuat; jika beliau telah memutuskan sesuatu, maka beliau akan teguh pada keputusan tersebut.

"Narekko makkadai Gurutta Abba cella, cellani tu" (Jika Gurutta Abba mengatakan merah, maka merah jugalah hal itu).

Ketegasan ini melahirkan kewibawaan yang luar biasa. Saking diseganinya, konon hanya dengan mendengar bunyi motor beliau saja, para santri yang sedang gaduh akan mendadak diam dan tertib. Namun, penting untuk dicatat bahwa rasa segang ini muncul bukan karena paksaan atau rasa takut yang dibuat-buat, melainkan karena pancaran kharisma alami seorang ulama yang ikhlas.

Berbeda dengan rasa takut yang hilang saat guru tidak ada, kharisma Gurutta Abba tetap membekas di hati para santri meski secara fisik beliau telah tiada. Ketegasan beliau mengajarkan kita bahwa wibawa seorang guru adalah fondasi penting dalam proses transfer ilmu, asalkan didasari oleh integritas, bukan intimidasi.


VISI PROGRESIF UNTUK AS'ADIYAH

Poin ketiga adalah pandangan jauh ke depan mengenai arah perkembangan Pesantren As’adiyah. Gurutta Abba adalah sosok di balik lahirnya unit-unit pendidikan strategis. Beliau adalah pencetus Kampus III Madrasah Aliyah As’adiyah di Macanang. Meski lokasinya cukup jauh dari pusat kota Sengkang, tempat tersebut menawarkan suasana belajar yang tenang dan asri bagi santri.

Selain itu, beliau juga menginisiasi pembangunan Kampus IV Ma’had Aly As’adiyah di Desa Ujung Baru, Kecamatan Tanasitolo. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa beliau tidak hanya menjaga tradisi yang ada, tetapi juga aktif melakukan ekspansi sarana pendidikan demi kenyamanan generasi mendatang.


Menjaga Warisan Intelektual

Sebagai santri, tugas kita adalah melanjutkan visi beliau. Selain meningkatkan infrastruktur fisik, kita memiliki tanggung jawab moral untuk memperkuat aspek kultural As’adiyah. Hal ini mencakup pelestarian tradisi halaqah, peningkatan budaya literasi, serta pengembangan metode ijtihad yang relevan dengan tantangan zaman.

Semoga semangat pengabdian dan keikhlasan Gurutta Abba senantiasa menginspirasi kita untuk tidak pernah lari dari tempat pengabdian hanya karena alasan material.


Ujung Baru, 4 November 2019
Oleh: KM. Tarmidzi Tahir, S.H.I., M.H.I

0 Komentar