AWAL MULA SEBUAH LANGKAH PROGRESIF
Kilas balik perjalanan khidmah ini bermula sekitar sebelas tahun yang lalu, tepatnya pada hari Jum'at, 21 Agustus 2015. Sebuah momentum bersejarah tercipta ketika saya bersama senior saya, Daeng KM. Baso Ajis Pariwara Putra, memantapkan niat untuk menghadap ke kediaman Anregurutta Alm. KH. Abunawas Bintang. Kedatangan kami membawa sebuah misi besar yang telah lama terpendam dalam diskusi-diskusi informal di selasar asrama: mengusulkan pembentukan wadah resmi yang dapat menampung aspirasi serta mengembangkan bakat multidimensi para Mahasantri di lingkungan Ma'had Aly As'adiyah.
Silaturrahim tersebut bukanlah sebuah langkah spontan, melainkan kristalisasi dari dialektika panjang lintas generasi. Gagasan mengenai wadah ini sebenarnya sudah lama diinisiasi oleh Daeng KM. Jefry Sakka, namun kendala sosiologis dan kekhawatiran akan kekakuan tradisi membuat ide tersebut sempat tertahan. Meskipun saat itu semangat kami diuji oleh pandangan skeptis yang menganggap organisasi dapat mengikis fokus tafaqquh fiddin (pendalaman agama) dan menyalahi adat ketaatan di Ma'had, dukungan dari para senior menjadi bahan bakar utama bagi kami untuk tetap melangkah dengan penuh optimisme.
Restu Sang Guru dan Filosofi Lahirnya HTT
Setibanya di hadapan Anregurutta, keraguan kami sirna seketika oleh pancaran kearifan beliau. Anregurutta KH. Abunawas Bintang menyambut usulan tersebut dengan keterbukaan intelektual yang luar biasa. Beliau tidak hanya memberikan restu, tetapi juga memberikan mandat operasional yang konkret. Masih lekat dalam ingatan, beliau bersabda: "Bagus, silakan buat nama wadahnya dan susun struktur organisasi sekaligus personalianya."
Beliau memberikan arahan strategis agar wadah ini menggunakan identitas bahasa Arab sebagai refleksi dari jati diri santri, lalu merekomendasikan kami untuk berkonsultasi dengan Gurutta Muhammad Yusuf Razaq guna menyusun struktur bahasa Arab yang kontemporer dan fungsional. Melalui proses koordinasi yang intens, lahirlah nama al-Hai’ah al-Tanfiidziyyah Li Thullab (Lembaga Eksekutif Mahasantri), yang kemudian populer dengan akronim HTT. Kehadiran HTT saat itu menjadi oase bagi dahaga organisatoris mahasantri yang ingin memadukan tradisi kitab kuning dengan kecakapan manajerial modern.
MASA RINTISAN DAN FONDASI INTELEKTUAL
Pada masa rintisan, amanah kepemimpinan pertama dipercayakan kepada Baso Ajis Pariwara Putra, dan pada tahun berikutnya, tongkat estafet kepemimpinan dititipkan kepada saya. Selama dua tahun awal, HTT tidak hanya sekadar menjadi papan nama organisasi, melainkan mesin penggerak literasi dan dakwah melalui dua lembaga strategis yang kami bentuk.
Pertama, Lembaga Dakwah yang secara konsisten menerbitkan Buletin Mingguan ‘Qurrotu’Ain’ sebagai media syiar dan latihan menulis bagi santri. Kedua, Lembaga Bahasa yang menghidupkan tradisi intelektual melalui forum Nadwah Lughowiyah. Forum bulanan ini menjadi ruang sakral bagi dialektika santri, tempat di mana penguasaan bahasa Arab diuji melalui debat-debat tematik yang menuntut ketajaman berpikir dan kelancaran lisan. Fondasi inilah yang kemudian membuktikan bahwa organisasi bukanlah penghambat akademik, melainkan katalisator yang mempercepat pendewasaan intelektual santri.
Transformasi Strategis Menjadi DEMA
Transmisi organisasi menemui babak baru pada penghujung masa jabatan saya. Dalam perhelatan Mubes Ke-2 di Kampus 4 As'adiyah, Jalan Andi Unru, nama HTT resmi bertransformasi menjadi DEMA (Dewan Mahasantri). Perubahan ini bukan sekadar pergantian label, melainkan langkah visioner yang diusulkan oleh Anregurutta Dr. KH. Muhyiddin Tahir, M.Th.I. beliau memandang perlunya sinkronisasi nomenklatur agar sejalan dengan regulasi Kementerian Agama dan tren organisasi di berbagai Ma’had Aly nasional.
Selain aspek administratif, transformasi ini memiliki dimensi strategis untuk menjaga marwah institusi dari ambiguitas politik. Nomenklatur DEMA dipilih untuk menghindari salah tafsir terhadap akronim HTT yang dikhawatirkan memiliki kemiripan dengan ormas tertentu yang dilarang pemerintah saat itu. Dengan nama baru ini, DEMA semakin kokoh sebagai representasi resmi mahasantri yang moderat, progresif, dan tetap patuh pada garis perjuangan Pondok Pesantren As'adiyah.
Harapan untuk Integritas Mahasantri
Kini, tidak terasa DEMA Ma’had Aly As’adiyah Sengkang telah menapaki usia kelima tahun. Di tengah perhelatan pesta demokrasi internal yang terus berlanjut, harapan kami sebagai perintis tetap sama: DEMA harus menjadi kawah candradimuka—tempat di mana karakter santri ditempa agar tidak hanya mahir membaca kitab, tetapi juga terampil membaca realitas sosial.
Eksistensi DEMA adalah simbol kedewasaan berpikir mahasantri dalam berdemokrasi secara santun dan beretika. Semua proses ini adalah investasi jangka panjang. Kelak, saat mahasantri terjun ke tengah masyarakat, integritas dan pengalaman yang mereka dapatkan di DEMA akan menjadi benteng kokoh dalam menjaga nilai-nilai kepesantrenan di tengah arus perubahan zaman yang semakin kompleks.
Oleh: KM. Ahmad Syukur, S.Pd
Pendiri & Mantan Ketua HTT Ma'had Aly As'adiyah Sengkang Periode Rintisan

0 Komentar